menu

Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

Maaf Ku Harus Pergi Dari Cintamu

Indahnya cinta kurasa , tetapi tak seindah yang kukira . malam semakin malam, tanpa ada dirimu disisi. ku mohon pada dirimu jangan dustai hati dan cintaku. Kasihku hanyalah dirimu , kasihku aku cinta padamu .Lembut nya embun pagi menyapa hati dan cintaku , seolah tak berhenti berharap akan cintamu. Manisnya cintamu dan indah senyum bibirmu menambah rasa cintaku kepada dirimu . dunia maya adalah awal cerita kita yang tak pernah kulupa sepanjang hidupku . perkenalan ku dengan dirinya membawa arti kebahagian dalam hidupku. Perbedaan pendapat membawa kita pada jurang kehancuran.

Maaf ini sudah menjadi keputusan ku dan harus pergi untuk kesekian kalinya , dan aku pun tak bisa berbuat apa – apa hanya kata maaf ku bisa ku ucapkan padamu.

Jujur ,kau telah melukai hati perasaanku , sehingga hidup ku kehilangan arah tujuan dan membuat suram hidupku.

En, kenapa kau membohongi ku, apa kau tidak iba akan diriku. Maafin aku? Janji- janjimu semua palsu .
Aku sedih melihat kamu tak setia pada ku .

Walau rasa sayangku begitu besar kepada mu. tapi itu percuma ,kamu seakan tak menghiraukan aku lagi.
Malam Tahun baru 2011 adalah malam begita saklar .makna pergantian tahun . karna,ini juga termasuk sangat bermakna dalam hubungan kita bina selama ini .semua serba baru .

Kamu dimana ? loh ko , kenapa kamu pulang ke Depok sih . oya udah , kalau kamu mau malam tahun baruan bersama keponakanmu.

Bergegas aku mencoba mengecek ketempat kost an mu di bilangan Rawamangun .apa benar dia pulang ke depok atau membohongiku.

Aku gak yakin Eni pulang ke depok , rasa bimbang dan gak yakin tercurah dalam perasaan ku ini.loh ko, ternyata dia membohongi ku , ku melihat sendalnya berada ditempat kerjanya .tanpa berpikir panjang aku ketuk pintu kantornya , dia tampak kaget memandang diriku .hubungan yang terjalin selama 4 tahun dirusak oleh dia sendiri. membina hubungan begitu lama, akhirnya dia berkhianat tertangkap basah dengan rekan kerjanya sedang berdua an dalam kantor.

PERADILAN RAKYAT

Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.
“Tapi aku datang tidak sebagai putramu,” kata pengacara muda itu, “aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini.”
Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.
“Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?”
Pengacara muda tertegun. “Ayahanda bertanya kepadaku?”
“Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini.”
Pengacara muda itu tersenyum.
“Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku.”

“Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu.”
Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.
“Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri.”
Pengacara tua itu meringis.
“Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan.”
“Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!”
Pengacara tua itu tertawa.
“Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!” potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

“Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan,” sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, “jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini.”
Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

Mengayam kesabaran

"Kriiinnnggg!" Jam wekker di samping kepalaku berbunyi nyaring. Reflek kugerakkan tanganku memencet tombolnya. Hmmm, jam 4.45. Kulihat Aa sudah tidak ada di sampingku, aku bergerak menyalakan heater dan bergerak menuju ruang sebelah. Di sana kulihat Aa tertidur dengan pulasnya. Dengan jaket tebal dan sarungnya. Posisinya melingkar membuat tubuh Aa yang jangkung tampak mengecil. Aku tersenyum. Rupanya Aa shalat malam tanpa membangunkan aku.Terlihat terjemahan Al quran yg masih terbuka di samping kepala Aa. Kututup perlahan terjemahan itu. Kuberjongkok di samping tubuh Aa, tersenyum memandangi wajah Aa yang terlihat damai sekali. "A..Aa..!" Kuguncang-guncang bahu Aa pelan. Aa menggeliat sebentar. Tapi seakan tidak peduli malah membalikkan posisi tubuhnya membelakangiku. Kuulang hal yang sama. Aa belum mau bangun juga. Kalau sudah begini, cuma ada satu cara yang ampuh. Usapan air! Aku bergegas menuju dapur dan memutar kran lalu mencuci tanganku. Siraman air dingin membuat sel-sel sarafku bereaksi seketika. Rasa kantuk yang masih tersisa lenyap dibuatnya. Kuusapkan tanganku yang dingin pada wajah Aa. Suamiku terbangun seketika dan menatapku dengan wajah bangun tidurnya yang lucu. "Assalamu'alaikum! Sudah mau jam 5..."kataku memandang Aa sambil menahan tawa. Aa bangkit dari tidurnya. "Hmm..,"gumamnya masih ogah-ogahan. "Dede wudhu dulu..awas jangan ketiduran lagi!"ancamku sambil beranjak ke kamar mandi.

Subuh itu seperti biasa kami selesai shalat berjamaah kami lewati dengan tilawah Al Quran dan doa Matsurat. Dan seperti biasanya tilawah Aa lebih panjang dari pada lama tilawahku. Aku beranjak menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi dan mencuci pakaian. Ketika aku memasukkan baju-baju kotor ke mesin cuci, ku dengar suara Aa. "De..! Sudah nggak papa perutnya..? Katanya mulas habis dari Rumah sakit kemarin.." "Nggak, udah nggak papa, kok, "sahutku.

Kuncup Cinta Dalam Bingkisan Amanah

Senja itu Ikhwan duduk di bangku pelataran rumahnya. Ditemani secangkir teh yang volumenya tak berkurang sedikitpun. Desahan angin di balik rimbunnya pohon mangga turut mengiringi syahdunya senja kala itu. Sesekali terdengar desingan motor yang lewat jalan di depan rumahnya. Hm.. Semua tak ia pedulikan. Posisinya tetap bersandar pada batang pohon Mangga, kaki di angkat, tangan bersedekap dan pandangan terpejam sembari kepala tertempel di batang pohon itu. Ada hal yang lebih menyita imajinasinya hingga syahdu senja tak ia hiraukan. Bibirnya komat-kamit bak dukun yang sedang menolong pasiennya. Ia menirukan dendang lagu lewat MP3 yang tertancap di kedua telinganya. Seakan senja itu seutuhnya adalah miliknya.
“Hm… seorang guru ternyata bisa galau juga” Gumannya lirih dan seketika membuatnya tersadar akan semedi panjang yang tak sadar tlah ia lakukan. Tersenyum datar saat tersadar dari imajinasinya yang tlah terhenti oleh kesadarannya sendiri.


Di Balik pintu ternyata ada sosok yang senantiasa memperhatikan gerak-gerik Ikhwan. Ntah… berapa lama sosok paruh baya itu berdiri di balik pintu, memandangi anak sulungnya yang sedang asyik dengan imajinasi yang terlihat begitu mengasyikkan. Tak berniat mengganggu anak sulungnya hingga terlihat anak sulungnya sudah tersadar dan mungkin tlah mendapati imajinasinya menjadi sebuah kenyataan. Sosok itu mulai mendekat, menyambangi anak sulungnya itu dengan sentuhan lembut khas seorang Bunda.
“Hm… ada apa gerangan dengan kau anakku? Bunda melihat kau asyik dengan imajinasi mu sehingga sesekali kau tersenyum dan sesekali juga raut wajah mu menampakkan kesedihan” Suara lembut yang mencoba membuka pembicaraan
“Ah..Bunda ternyata sudah lama memperhatikan Ikhwan ya?” Mencoba memperbaiki posisi duduknya dan melepas tali headset yang tertancap di kedua telinganya.
“Ya… Bunda tak sengaja melihat mu. Bunda penasaran apa yang membuatmu betah duduk berlama-lama di sini.”

Tuhan Lebih Menyayangimu

Angin di pagi itu berhembus sangat pelan. Sementara suara-suara deru ombak didepan Pantai cirocok Pariaman, terasa menggesek telinga. Tepatnya didepan rumah yang berjejeran, tampak seorang gadis yang cukup dewasa melamun dengan pandangan yang terlihat kosong. gadis biasa itu bernama Ines. Wajahnya menggambarkan dirinya yang terus dalam kesepian. Apalagi kesunyian itu mengingatkannya pada seorang pemuda yang membuat hatinya terasa sakit. Siapa lelaki itu? Dialah lelaki yang selalu diidamkannya . Sayangnya cinta gadis itu bertepuk sebelah tangan. Tapi tak bisa juga lelaki itu disalahkan. Karna ia tak kena mengena tentang perasaan yang melanda Ines saat itu. “Bagaimana aku harus menyalahkan semua ini padanya? Sedangkan ia tak pernah tahu bagaimana jeritan hatiku saat berhadapan dengannya”. Keluh gadis itu dalam hati.
“Tunggu!!!!!! , Jerit wanita itu dalam menghentikan keluh kesah perasaannya. “Kenapa aku tak bilang saja padanya. Tentang rasa yang menggila ini. Atau kutitipkan saja salamku untuknya melalui orang yang dekat dengannya. Kenapa tidak, ini pasti bisa membantuku. Tapi ini kan gengsi. Dan menurutku itu harus dijaga. Habis harus bagaimana ?” ucapnya dalam resah yang berkepanjangan.


Gila….,dia memang sudah gila

DIAMBIL DARI BUKU HIDAYAH CERITA NYATA ( PERUT MEMBESAR DAN MEMBUSUK SAAT MENJELANG AJAL )

Derita demi derita terus ditanggung oleh Iami (40 tahun, bukan nama sebenarnya ),menjelang ajalnya. tubuhnya yang semula normal kini berubah menjadi kurus. sementara perutnya tak lagi sepertisedia kala. perut itu kini terus membuncit persis seperti seorang ibu yang sedang mengandung janin berusia sembilan bulan. Tidak itu saja.perlahan tapi pasti, kulit-kulit separuh badannya penuh dengan luka yang tak kunjung smebuh,hingga akhirnya membusuk dan baunya anyir yang menyebar dari separuh tubuhnya yang membusuk itu membuat para pelayat enggan untuk mendekati jenazahnya.
Begitulah derita bertubi-tubi melanda istri Risman (45 tahun bukan nma asebenarnya,saat-saat sebelum ajal menjemputnya . Lantas dosa apakah gerangan yang telah diperbuatnya dan bagaimana pula jejak keseharian yang ia jalani sepanjang harinya .
MENGUSIR IBU KANDUNGNYA
Ibu mana yang tidak sakit hatinya ketika ia harus diusir oleh anak kandungnya sendiri. Sementara,usia tua yang terus menghampirinya membuatnya tak lagi kuasa untuk mencari nafkah ,seperti sedia kala ketika ia masih kuasa jungkir balik mengais rizky untuk menghidupi diri dan anak-anak serta keluarganya. Itulah yang dialami Ibu Nini(bukan nama sebenarnya), seorang ibu tua yang usianya telah mencapai lebih dari 90 tahun, yang dengan berdarah-darah melahirkan Ismi kedunia fana ini.
Bagi orangtua seusianya, mampu mengurus dirinya sendiri adalah karunia yang tak ternilai harganya. Adapun untuk urusan mencari nafkah, tentu jauh memungkinkan.Namun, tidak demikian halnya bagi Ismi. Betapa pun ibu kandungnya itu sudah tua renta, ia harus tetap rajin membantu pekerjaan sehari-harinya dirumah,mulai dari menyapu,mencuci piring,memasak hingga berkebun.Bu Nini yang sudah tua itu terang saja tidak sanggup lagi menangani tugas keseharian seperti itu,seperti yang diharapkan Ismi.
Hari demi hari terus berlalu.Ismi dan Risman biasanya sejak padi sudah tidak terlihat dirumah.mereka bekerja diladang karet di kebun miliknya sendiri.Sebagai transmigran,setiap bulannya pemerintah mengalokasikan dana untuk kebutuhan sehari-harinya.Sehingga,Ismi dan Risman tak perlu repot-repot untuk sekedar makan maupun memenuhi kebutuhan harian lainnya.Apalagi tak banyak kepala yang harus ditanggungya.Kecuali dirinya,suami dan ibunya,Ibu Nini.Bantuan dari pemerintah sesungguhnya cukup untuk sekadar membantu kelangsungan hidupnya.
Bebrapa tahun lamanya,baik Ismi maupun suami dan ibunya terasa begitu menikmati apa yang didapatnya.Suasana harmonis dan kebersamaan sesekali nampak menghiasi keluarga ini.Semua berjalan seperti kebanyakan keluarga pada umumnya.Nyaris tak ada keluhan berarti maupun geliat gelar lain dari keseharian Ismi sendiri.Celakanya,kucuran dana dari pemerintah bagi kelangsungan hidup keluarga transmigran layaknya Ismi dan keluarganya tidak berlangsung lama,.Setelah beberapa tahun tinggal dilokasi transmigran,pemerintah tak lagi menguncurkan subsidi bagi keluarga itu.Sejak itulah,pemandanganya keluarga Ismi mulai menampakkan tanda-tanda perubahan yang kurang nyaman.Ismi mulai bingung sesekali ngomel.Tak jarang emosinya meluap-luap,tak lagi terkontrol.
Hingga suatu hari,peristiwa memilukan itupun terjadi.Hari itu terik mentari begitu menyengat.Ismi dan Risman yang baru pulang dari kebun karetnya merasa kecapaian.Letih bercampur haus dan dahaga bercampur menjadi satu.Mereka pun bergegas pulang kerumah.Setibanya dirumah Ismi mendapati pemandangan semeraut dan acak-acakan.Tak ada tanda-tanda kalau lantai rumah itu habis disapu.Sementara dikamarnya,Bu Nini tampak membisu.Ternayata keadaan itu membuat Ismi jengkel dan marah.Ia tidak mampu menahan emosinya yang memuncak. Kepada siapa lagi kemarahan itu harus ia muntahkan,kalau bukan kepada Ibu Nini,ibu kandungnya sendiri."keluaaaaaarrrr.......pergiiii...pergiiiii...!"teriak Ismi marah.Degg!bak petir disiang bolong,Ibu Nini kaget buakan kepalang.Guratan kesedihan menghujam tajam di dalam dadanya.Tak pernah ia membayangkan kalau anaknya bakal tega bersikap sekejam itu kepada dirinya.
Bu Nini yang memang sudah tidak berdaya hanya bisa pasrah.Tidak ada pilihan lain baginya,kecuali menuruti kemauan Ismi agar dia meninggalkan rumah yang sudah lama dihuninya.Denagan hati yang teriris dan air mata yang terus menggenang dieplupuk matanya,Ibu Nini menjejekan langkanya terseok-seok langkah wanitu tua itu terhenti pada sebuah rumah yang terletak sekitar 200 meter dari rumah Ismi.Salim pemilik rumah itu, tak lain adalah putranya.Ia adik adari Ismi.Salimlah yang menemani sisa hidup Ibu Nini hingga akhir hidupnya.Kepada Sai\lim,Ibu Nini mengungkapkan rasa sakit hatinya atas pengusiran dirinya dari rumah Ismi.Saking sakitnya,sampai-sampai seolah ia lebih memilih mati ketimbang harus mengenang sikap kejam anaknya yang tega mengusirnya."saya ingin mati"ujar Ibu Nini ketika itu.beruntung Ibu Nini tak ingin mengikuti hawa nafsunya,sejak dirinya diusir Ibu Nini lebih menyerahkan segala hidupnya kepada pengakuan sang Khalik.konon,seperti yang dituturkan Ali satu bulan lamanya setelah pengusiran atas dirinya,ia berpuasa.
Dan tak lama setelah itu,Ibu Nini menghembuskan nafas terakhirnya.Innalilahi wa innalillahi rojiun. Yang melayat banyaknya bukan main.Padahal kampung ini terbilang kampung baru.karena baru beberapa tahun dihuni para transmigran .sampai gang-gang kecil itu penuh "kenang Aji yang juga keponakan Ismi"
"Beras,makanan dan uang bertumpuk,mungkin karena nenek itu shaleh,ujarnya"
TERJERAT LILITAN HUTANG
Kebingunggan Ismi terus menjadi-jadi setelah sekian lama pemerintah tak lagi mengalokasikan bantuannya kepada keluarga transmigran.Apalgi Rika anak pungutnya,yang telah bertahun-tahun bekerja di sebuah restoran di Amerika tak lagi bisa diharapka.Rika adalah satu-satunya orang yang dianggapnya sebagai anak.perempuan itu ia asuh sejak kecil.Kabar terakhir yang beredar diam-diam Rika telah direbut oleh keluarga kandungnya.Menurut Aji,merebut kembali Rika kepangkuannya.karena,bagi mereka Rika telah menjadi anak yang bisa dijadikan tumpuan hidupnya,mengingat ia mampu berkarir dan menghasilkan uang.Kenyataan ini mengharuskan Ismi mencaari cara agar tetap bisa terus bertahan hidup.Apalagi Risman sudah lama tidak bekerja.suaminya itu sudah lama menganggur.
Berbagai upaya pun ia lakukan untuk menompang kebutuhan hidupnya sehari-hari.Salah satunya adalah membuka usaha kecil-kecilan dengan berjualan kue dikampungnya.Namun,lagi-lagi Ismi belum juga beruntung.Usaha kecil-kecilan yang dirintihnya dengan berjualan kue dikampungnya tak membuahkan hasil yang menggembirakan.Sebaliknya,ia justru sibuk mencari pinjaman kesana-kemari guna menutupi kerugian yang ditanggungnya.Tetangga,kerabat dan teman-temannya tak luput dari incaran hutangnya.Bahkan Ismi rajin meminjam uang kepada bank keliling.Sayangnya,gelagat Ismi yang suka meminjam duit,baik ketetangga maupun kebank keliling,tidak pernah tercium Risman.Sementara Ismi sendiri tidak pernah berterus terang kepada suaminya.Ia tidak pernah secara gamblang menceritakan ihwal uang yang diperolehnya,dari mana uang itu berasal .Malah Ismi kerap bilang kesuaminya bahwa uang itu hasil dari menjual kue padahal tidak.Uang yang diperoleh Ismi sealama ini adalah hasil pinjamannya dari bank keliling"Sama suami bilnagnya dapat uang ".Padahal uang itu hasil meminjam kebank keliling"terang Aji"
"Seharusnyakan terus terang kalau uang itu hasil dari pinjaman"tambahya.Aji menyesalkan ketidak terusterangnya bibinya terhadap suaminya.karena,pada akhirnya suaminya jugalah yang menanggung bebanya.Ismi hanyalah manusia biasa yang hidup dengan segala keterbatasannya.Beban hidup yang ditanggungnya terlalu berat baginya.Anak angkatnya yang tak lagi bisa diharapkan terus dikejar oleh jerat-jerat hutang yang melilitnya.Ismi stress.Dan,akhirnya jatuh sakit.
PERUT MEMBESAR DAN SEPARUH BADANNYA MEMBUSUK
Memasuki bulan ketiga tubuh Ismi masih tergolek dibebaringan.Tubuhnya terus mengurus,lemah tak berdaya.Apalagi nyaris tak ada lagi suplai makanan maupun cairan yang masuk ketubuhnya.Setiap kali Aji mencoba menyuapkan makanan kemulutnya spontan makanan itu dimuntahkan kembali.Begitu juga ketika ia menyuguhkan air kemulutnya,tak juga ditelanny.Meski Ismi sendiri terlihat berusaha untuk menelannya,tapi baik air maupun makanan itu enggan juga masuk ketubuhnya.Malah aia merasakan sakit yang luar biasa seperti orang dicekik setiap kali mau menelan makanan dan minuman.Anehnya lagi,meski tak ada suplai cairan dan makanan yang masuk,namun perutnya terus membesar.Dan,semakinhari perut itu terus membuncit."persis seperti orang yang tengah mengandung sembilan bualn,cerita Aji yang rajin mengunjungi rumah bibinya itu.
Menurut penuturan Aji yang diperoleh dari keterangan dokter waktu itu,Ismi di vonis terjangkit penyakit mag.Namun derita mag yang ditanggungnya tak kunjung sembuh,meski telah berobat kemana-mana hasilnya tetap nihil.Tiba-tiba Ismi meraung kesakitan"Huuuuuuuuuuhhhh aduuuu....hhhh!""aaaaa........aaaaaaa.....!"berkali-kali suara jerit kesakitan itu terdengar dari mulut Ismi.Bersamaan dengan jarum jam yang menunjuk kearah angka 6 pagi,suara raung kesakitan itu tak lagi terdengar.Ismi menghembuskan nafas terakhirnya,yang membuat Aji kemudian heran dan membuatnya tak habis berpikir adalah dalam hitungan menit tubuhnya sebelah kanan Ismi dipenuhi oleh luka-luka yang menjijikan.
Tubuhnya biru dan bau bangkai seperi habis digai dari kuburnya"tutur Aji".Yang lebih menjijikan bau itu tersebar hingga berbagai penjuru rumah tetangganya.sampai jarak hampir 100 meter tercium.berbagai upaya dilakukan keluarga untuk mengusir bau busuk itu.Namun apa hendak dikata.Maksud hatimemeluk gunung toh tak kesampaian juga.Meski aneka wewangian telah ditaburkan didekat jenazahnya,namun tak ada hasil yang menggembirakan,bau busuk itu tak juga lagi sirna.Serbuk kopi yang katanya ampuh untuk menghilangkan bau,ternyata tak cukup mengusir bau busuk itu.Sementara pengharum yang digantungdiruangannya,tak ubahnya pelengkap ruangan semata,tetap saja bau busuk itu menyegat.
Memang,tidak ada kejanggalan berarti selama prosesi penguburannya,Namun sebagaimana yang dituturkan Aji tak banyak yang datang sekedar memberikan salam penghormatanterakhir dengan ikut mengantarkan jenazahnya kepersinggahan terakhirnya.Bahkan,seperti lazimnya tiga hari berturut-turut orang-orang berdatangan untuk mengaji.Tapi,sampai hari ketiga tidak ada seorang pun yang datang untuk menkajikannya.
"Malah setelah jenazahnya dikebumikan,hujan turun tiap hari sampai seminggu baru reda,padahal saat itu bukanlah musim penghujan.Sebaliknya,saat itu musim panen ,biasanya jarang sekali hujan"terang aji".Beberapa hari setelah Ismi meninggal,banyak orang yang datang kerumahnya untuk menagih hutang-hutangnya.Namun harapan mereka untuk mendapatkan kembali uangnya berujung isapan jempol belaka.Apalagi Risman tidak pernah tahu menahu kalau Ismi memiliki banyak meminjam uang kepada mereka.Lgipula Risman hanyalah seorang pengangguran.Celakanya,hingga saat ini hutang-hutang itu belum juga terlunasi.Sementara keluarganya sudah tidak mau tahu lagi.......................

Hurted Heart: What Is Friend? (chapter 2)

Hurted Heart: What Is Friend? (chapter 2): ********************************* KOST ************************************* Pagi pagi aku dan Ardan berangkat sekol...

Hurted Heart: What is Friends? (chapter 1)

Hurted Heart: What is Friends? (chapter 1):        aku punya cerita, dan setiap orang punya cerita. cerita singkatku yang singkat namun tak pernah ku singkat di hati . Cerita sebuah pe...